Drone pemadam karhutla resmi dikerahkan oleh tim gabungan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk menanggulangi titik api di wilayah Sumatera Selatan. Langkah inovatif ini menandai babak baru dalam mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan.
Operasi pemadaman tersebut berlangsung di kawasan Kabupaten Ogan Ilir pada Jumat malam akhir September 2026. Menurut laporan Kompas.id, pengerahan teknologi pesawat nirawak ini merupakan yang perdana dilakukan di wilayah Sumsel.
Selain menerbangkan armada nirawak berkapasitas besar, petugas kepolisian juga membawa formulasi kimia khusus pemadam gambut. Oleh karena itu, operasi gabungan ini langsung menyasar titik api kritis yang sulit ditembus jalur darat.
Inisiatif strategis ini melibatkan kolaborasi intensif antara Tim Staf Logistik (Slog) Polri bersama jajaran Polda Sumsel. Dengan demikian, penanganan kebakaran lahan gambut kini beralih memanfaatkan ekosistem teknologi modern yang lebih terukur.
Pengerahan Quadcopter Angkut Berat dan Cairan Khusus X-Fire 03
Berdasarkan rilis resmi tim kepolisian, operasi udara ini mengandalkan sejumlah unit drone multirotor tipe quadcopter berkemampuan angkut tinggi. Pesawat nirawak tersebut memiliki variasi kapasitas muatan mulai dari 30 kilogram, 50 kilogram, hingga 100 kilogram.
Selanjutnya, drone berkapasitas muatan berat tersebut membawa cairan pemadam khusus berlabel X-Fire 03. Formulasi kimia ini dirancang secara khusus untuk membasahi dan memadamkan bara api di kedalaman lahan gambut.

Menurut laporan dokumentasi kepolisian, Slog Polri menyalurkan pasokan cairan X-Fire sebanyak 4.000 liter ke lokasi kebakaran. Pasokan logistik cairan tersebut diangkut langsung menggunakan dua unit truk operasional berdaya tampung besar.
Di samping itu, penyemprotan bahan kimia via udara ini bertujuan untuk memutus rantai pembakaran di bawah permukaan tanah. Alhasil, api tidak lagi muncul kembali ke permukaan setelah proses pendinginan selesai dilakukan oleh drone.
Strategi Mengatasi Hambatan Medan Gambut Ogan Ilir
Kawasan lahan gambut di Ogan Ilir memiliki karakteristik geografis yang sangat menantang bagi petugas darat. Bahkan, gambut kering sering kali menciptakan lapisan bara api tebal yang sulit dijangkau selang pemadam konvensional.
Namun, kehadiran armada drone memberikan fleksibilitas mobilitas yang sangat tinggi bagi tim pemadam. Drone dapat melayang tepat di atas titik koordinat api tanpa terhalang rawa maupun runtuhan kayu terbakar.
Selain meningkatkan efisiensi, pendekatan ini secara drastis meminimalkan risiko bahaya bagi personel pemadam di lapangan. Petugas darat tidak perlu lagi menerobos kepungan asap pekat bersuhu tinggi di tengah kegelapan malam.
Pengoperasian armada nirawak ini juga mematuhi koridor navigasi ruang udara yang ketat sesuai regulasi keselamatan penerbangan nasional. Sebagaimana diketahui, ketentuan pengoperasian diatur dalam kerangka Indonesia Drone Laws Navigating Aviation Rules.
Di sisi lain, tata kelola ruang udara nasional kini semakin adaptif berkat implementasi UU Nomor 21 Tahun 2025 Airspace Management Supports Indonesian Drone Ecosystem. Regulasi tersebut memberikan kepastian operasional bagi misi darurat kepolisian di ruang udara rendah.
Pengawasan Udara Terpadu dan Kesiapsiagaan Dini
Pemanfaatan pesawat nirawak dalam penanganan kebakaran hutan tidak hanya terbatas pada fungsi penyemprotan cairan semata. Seperti dilansir dari Portal Div Humas Polri, kepolisian juga mengoptimalkan drone untuk patroli pemantauan kawasan rawan.
Polda Sumsel secara konsisten melakukan patroli udara guna mendeteksi titik panas sedini mungkin sebelum kobaran api meluas. Sebab itu, respons pencegahan bencana kini berlangsung jauh lebih cepat dan terencana.

Drone pengintai dapat memetakan batas persebaran api secara presisi lewat sensor pemantau udara. Kemudian, data koordinat tersebut diteruskan secara langsung ke tim operator drone penyemprot muatan berat.
Integrasi data pemantauan ini membuat konsumsi bahan pemadam X-Fire 03 menjadi jauh lebih terarah dan efisien. Langkah tersebut merupakan bagian dari perkembangan berita terkini dalam transformasi taktis kepolisian di era digital.
Kapasitas angkut logistik via udara ini turut membuktikan fleksibilitas sistem distribusi nirawak nasional, selaras dengan pemanfaatan Drone Cargo For Indonesia’s 3T Regions untuk misi-misi kritis.
Ekspansi Teknologi Pemadam untuk Wilayah Rawan Bencana
Keberhasilan operasi perdana di Sumatera Selatan menjadi pijakan penting bagi perluasan metode pemadaman modern ini. Wilayah lain yang memiliki bentang lahan gambut luas, seperti Provinsi Riau, direncanakan menjadi sasaran operasi berikutnya.
Terlebih lagi, ancaman kebakaran hutan dan lahan membutuhkan inovasi berkelanjutan yang mengombinasikan kecepatan serta efektivitas logistik. Kehadiran teknologi drone membuktikan bahwa mitigasi lingkungan kini memasuki fase baru yang serba otomatis.
Pemanfaatan pesawat tanpa awak skala industri ini juga mencerminkan geliat pertumbuhan Low-Altitude Economy Ecosystems Shaping Future Industries. Ekosistem ruang udara rendah terbukti memberi manfaat nyata bagi penanggulangan bencana alam dan perlindungan ekosistem hutan nasional.
Bagaimana pandangan Anda mengenai efektivitas penggunaan drone berkapasitas besar dan formula khusus dalam memadamkan karhutla di Indonesia? Tuliskan komentar dan analisis Anda di kolom bawah.



